Berita Terkini

MSP IPB Berjuang untuk Penyelematan Ekosistem Danau Maninjau

Kematian ikan di Danau Maninjau yang baru-baru ini terjadi mendapat perhatian dari Departemen Pengelolaan Sumber Daya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB University. Oleh karena itu, Departemen MSP IPB University menggelar webinar Pengelolaan Danau Berkelanjutan, beberapa waktu lalu.

Dalam webinar ini, Dr. Audy Joinaldy, Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumatera Barat) menjadi keynote speaker. Menurut alumnus IPB University Fakultas Peternakan ini, Danau Maninjau merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Untuk itu, menjadi perhatian publik agar dapat disiapkan skema yang tepat dalam mengawal pembangunannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Dr Desniarti menyampaikan fakta dan data tentang status danau saat ini.

Menurutnya, kondisi danau telah mencapai hypereutropic dan dihuni 33 spesies pada tahun 1916. Jumlah itu menurun menjadi 16 spesies pada tahun 2014.

“Selain itu, ditemukan 16 spesies endemik pada tahun 1916 dan hanya ditemukan 7 spesies endemik dan spesies ikan asing yang ditemukan. Untuk menyelamatkan Danau Maninjau, setidaknya sudah disusun tujuh langkah sesuai arahan gubernur,” ujarnya.

Sementara itu, Dr Fauzan Ali, Limnologist Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, saat ini terdapat 2.896 keramba jaring apung (KJA). Untuk itu, penempatan KJA di Maninjau harus diatur menurut zonanya.

“Selain mengurangi beban keramba, juga perlu mengurangi input organik dari catchment area. Muatan sampah organik dari persawahan dan pembudidaya harus dikendalikan. Dengan dua langkah ini, tampilan danau akan lebih sehat,” ujarnya.

Pendapat lain datang dari Dr. Taryono, Dosen MSP IPB University. Menurutnya, Danau Maninjau merupakan salah satu aset perairan umum pedalaman dari 54 juta hektar perairan umum di Indonesia.

“Danau memiliki keunikan tersendiri, sehingga koherensi dan sinergi menjadi penting agar semua program besar ini dapat berjalan. Dalam pengelolaan Danau Maninjau perlu ada campur tangan manusia, karena gerak manusia akan dibatasi oleh alam dan alam akan membatasi keinginan manusia,” imbuhnya.

Jadi, langkah selanjutnya adalah memperkuat upaya proteksi dengan keuangan berkelanjutan. Siapa pun yang diuntungkan, harus berkontribusi.

“Misalnya adalah penjual pakan. Pihak yang paling diuntungkan adalah penjual pakan. Harus dilihat dari proses perumusan kebijakan, siapa yang berpartisipasi. Jadi, kami akan menagih partisipasi, kemudian dari orang yang berkontribusi. Kita juga harus mencari tahu siapa “penunggang bebas” itu. Jangan sampai pengorbanan hanya untuk para penggarap saja. Beberapa hal yang perlu direncanakan lebih tajam adalah rencana pengelolaan danau dengan penguatan kelembagaan,” ujarnya.

Dari diskusi tersebut Prof. Ario Damar sebagai moderator merumuskan bahwa penataan ruang merupakan landasan yang penting. “Ketika kita berbicara tentang multi-stakeholder, siapa yang akan mendorong, ini harus dijabarkan menjadi kekuatan untuk perubahan. Kemudian kita akan telusuri seberapa besar penerimaan yang bertentangan dengan baseline yang telah ditetapkan,” jelas dosen IPB University itu.

Oleh karena itu, lanjutnya, poin penting dari keberhasilan upaya tersebut adalah menentukan pemimpin yang mendorong perubahan untuk memperbaiki Danau Maninjau.

SDGs 4 Quality Education SDGs 13 Climate Change SDGs 14 Life Below Water SDGs 17 Partnership For The Goals

Baca selengkapnya

Agenda Terbaru

Statistik

5

Departemen

144

Tenaga Pendidik

20

Profesor

100

Doctor

2250

Mahasiswa Sarjana

920

Mahasiswa Pasca

Internasional Partner