The 7th EMBRIO International Symposium: Menyatukan dunia untuk laut yang lebih tangguh dan berkelanjutan
The 7th EMBRIO International Symposium: Menyatukan dunia untuk laut yang lebih tangguh dan berkelanjutan
Bogor, 3 September 2025, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University melalui Center for Coastal and Marine Resources Studies (EMBRIO) sukses menyelenggarakan The 7th EMBRIO International Symposium (EIS) pada 2-3 September 2025. Forum internasional bergengsi ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, serta mahasiswa dari berbagai negara untuk berdiskusi mengenai isu-isu krusial kelautan dan perikanan dengan perspektif biodiversitas, keberlanjutan, dan ketahanan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, yang menekankan pentingnya peran IPB dalam mendorong kolaborasi global untuk menjawab tantangan keberlanjutan laut. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa simposium ini bukan hanya ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga wujud komitmen IPB dalam menghubungkan akademisi, pemerintah, dan masyarakat internasional demi tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 14 Life Below Water.
Sebelumnya, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Fredinan Yulianda, dalam sambutannya mengapresiasi peran EMBRIO yang secara konsisten menyelenggarakan forum internasional ini. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan kelautan dan perikanan membutuhkan pendekatan multidisiplin serta jejaring riset lintas negara. “Melalui EIS, FPIK IPB University ingin berkontribusi nyata dalam memfasilitasi pertukaran gagasan dan membangun sinergi global menuju laut yang sehat, tangguh, dan berdaya saing,” ujarnya.


Pelaksanaan simposium tahun ini dilakukan secara daring melalui Zoom dan berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada pemaparan Keynote dan Invited Speakers kelas dunia. Dua keynote speakers yang hadir adalah Prof. Dr. Rachmat Pambudy selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia dan Dr. Arief Havas Oegroseno selaku Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Selain itu, hadir pula lima invited speakers dari berbagai institusi internasional, yaitu Prof. Dr. Indra Jaya dari IPB University (Indonesia), Prof. Dr. Fang Qinhua dari Xiamen University (China), Dr. Lisa Becking dari Wageningen University & Naturalis (Belanda), Dr. Muhammad Naimullah dari Universiti Malaysia Terengganu (Malaysia), serta Pilar Velásquez Jofre dari ICIAAD (Guatemala). Para narasumber menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, diplomasi, dan kebijakan publik dalam mendukung keberlanjutan laut serta penguatan blue economy.

Hari kedua simposium diisi dengan presentasi dari para peserta yang berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka menampilkan hasil penelitian dan inovasi di bidang kelautan dan perikanan, mulai dari kajian biodiversitas laut, teknologi perikanan, pengelolaan sumber daya pesisir, hingga gagasan inovatif menuju pembangunan kelautan yang inklusif dan berkelanjutan. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi yang memperkaya wawasan sekaligus membuka peluang kerja sama lintas negara.

Ketua The 7th EMBRIO International Symposium (EIS), Dr. Roza Yusfiandayani, menyampaikan bahwa simposium ini tidak hanya menjadi ruang akademis, tetapi juga platform strategis untuk memperkuat jaringan internasional dan kolaborasi riset jangka panjang. “Melalui EIS, kami berharap muncul gagasan-gagasan baru yang dapat menjawab tantangan global sekaligus memberikan solusi nyata untuk masa depan laut yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.The 7th EMBRIO International Symposium menjadi bukti nyata komitmen IPB University dalam mendorong pengembangan ilmu kelautan dan perikanan global. Kegiatan ini juga mempertegas peran IPB dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 14 (Life Below Water), melalui penguatan kolaborasi internasional dan pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk keberlanjutan sumber daya laut.


