Dosen FPIK IPB Bangun Desa Bondalem sebagai Desa Pesisir Tangguh dengan Rehabilitasi Terumbu Karang
Dosen FPIK IPB Bangun Desa Bondalem sebagai Desa Pesisir Tangguh dengan Rehabilitasi Terumbu Karang
Program Dosen Pulang Kampung IPB di Bondalem, Bali Utara, bawa aksi nyata dengan rehabilitasi terumbu karang dan bangun desa pesisir tangguh berbasis ilmu dan kolaborasi.
Terumbu karang di Desa Bondalem, Kabupaten Buleleng, Bali Utara, mendapatkan perhatian khusus melalui program Dosen Pulang Kampung IPB University.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada rehabilitasi terumbu karang, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat untuk menjadikan Bondalem sebagai desa pesisir tangguh berbasis ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas pihak.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Ir. Nyoman Metta N. Natih, M.Si, menegaskan, kegiatan ini penting agar masyarakat tidak hanya mengenal kondisi terumbu karang, tetapi juga memahami bagaimana data ilmiah dan oseanografi dapat digunakan untuk pengambilan keputusan konservasi yang tepat.
“Laut bukan hanya aset, tapi juga ruang belajar yang hidup bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Tim akademisi IPB yang terlibat terdiri dari Dr. Beginer Subhan, S.Pi, M.Si, Dea Fauzia Lestari, SIK, M.Si, dan Dr. Dondy Arafat, S.Pi, M.Si, serta mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB dan mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP).
Mereka membantu pelaksanaan teknis, pendampingan peserta, dan memperkuat kolaborasi lintas generasi serta perguruan tinggi dalam mendukung konservasi laut Bondalem.
Selain akademisi, program ini melibatkan berbagai mitra pesisir aktif seperti Bondalem Eco Dive, Pemerintah Desa Bondalem, serta kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dari Bondalem, Pacung, Penuktukan, Tejakula, Les, dan Bukti.

Kehadiran Direktur Indonesia Reef Warrior dan wisatawan asing yang ikut menyaksikan kegiatan menunjukkan dukungan luas terhadap upaya pelestarian terumbu karang Bondalem.
Suasana kegiatan makin semarak dengan hadirnya siswa SMAN 1 dan SMAN 2 Tejakula, yang belajar mengenali indikator kesehatan karang, penyakit karang, serta metode pemantauan ekosistem laut.
Dr. Nyoman Metta menambahkan, melibatkan generasi muda sangat penting agar kesadaran konservasi terus berlanjut dan membentuk budaya peduli laut di Bali Utara.
Rangkaian kegiatan disusun melalui pemaparan materi, diskusi, dan sesi tanya jawab interaktif.
Topik yang dibahas meliputi pengenalan bentuk kehidupan terumbu karang, pemantauan ekosistem, pemanfaatan data oseanografi Bondalem (arus, suhu, kejernihan, pasang surut), hingga inovasi modul Crypto sebagai dukungan rehabilitasi terumbu karang.
Semua materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar masyarakat dapat langsung menerapkan pengetahuan dalam kegiatan konservasi sehari-hari.
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas masyarakat dalam memahami hubungan antara kondisi lingkungan dan kesehatan terumbu karang, sekaligus memperkuat jejaring komunikasi lintas desa di pesisir utara Bali.
Kolaborasi akademisi, komunitas penyelam, pemerintah, dan generasi muda menjadi bukti nyata bahwa konservasi terumbu karang Bondalem adalah tanggung jawab bersama.
Di sisi nasional, Program Dosen Pulang Kampung IPB juga mendukung pencapaian target SDGs, termasuk kehidupan di bawah air (SDGs 14 – Life Below Water), aksi iklim (SDGs 13 – Climate Action), serta kemitraan untuk mencapai tujuan (SDGs 17 – Partnerships for the Goals).
“Kami berharap Bondalem menjadi model desa pesisir yang tangguh, berdaya ilmiah, dan berkelanjutan dalam menjaga sumber daya lautnya,” kata Dr. Nyoman Metta.
Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan kolaboratif, kegiatan ini membuktikan bahwa rehabilitasi terumbu karang bukan hanya menjaga ekosistem, tetapi juga membangun desa pesisir tangguh Bondalem sebagai contoh konservasi laut yang inspiratif untuk generasi mendatang.

