Dosen IPB Terapkan Teknologi Wanamina Kepiting untuk Meningkatkan Pendapatan Nelayan Muara Gembong Bekasi Melalui Program BIMA 2025
Dosen IPB Terapkan Teknologi Wanamina Kepiting untuk Meningkatkan Pendapatan Nelayan Muara Gembong Bekasi Melalui Program BIMA 2025

Tim pengabdian masyarakat IPB University berhasil menyelenggarakan kegiatan Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (BIMA) 2025 di Muara Gembong, Bekasi pada 9-10 Agustus 2025. Pelatihan bertajuk “Peningkatan Pendapatan Pembudidaya Kepiting Melalui Penerapan Teknologi Wanamina dan Manajemen Usaha” ini diikuti puluhan pembudidaya lokal untuk mengatasi kendala teknis dan manajerial budidaya berbasis ekosistem mangrove. Tiga pakar IPB memberikan solusi komprehensif: Dudi M Wildan, MSi (Departemen MSP FPIK) memaparkan penerapan teknologi terintegrasi meliputi sistem wanamina kepiting (integrasi mangrove-budidaya), formulasi pakan alternatif berbahan lokal sesuai fisiologi kepiting, desain kolam terpal multifungsi untuk hatchery dan pembesaran, serta teknik penjadwalan produksi responsif pasar. Dr. Gatot Yulianto (MSP FPIK) menguatkan aspek ekologi mangrove sebagai penyedia nutrisi alami dan penopang keberlanjutan, sementara Nurul Hidayati, MSi (Departemen Manajemen FEM) membagikan strategi pemasaran digital dan model bisnis inovatif.

Pemilihan Muara Gembong didasari potensi budidaya yang belum termanfaatkan optimal. Peserta terlibat aktif dalam praktik langsung pembuatan wanamina, pakan, dan instalasi kolam terpal, serta simulasi manajemen produksi. Dahlan (Kepala Desa Pantai Mekar) menyatakan apresiasinya: “Inovasi IPB ini diharapkan dapat diadopsi luas untuk mengakselerasi perekonomian desa kami.” Dukungan serupa disampaikan Muhammad Yani (Ketua Kelompok Muge Crab): “Pelatihan membuka wawasan baru tentang integrasi wanamina dan manajemen usaha untuk kesejahteraan pembudidaya.” Sebagai komitmen keberlanjutan program Bakti Inovasi untuk Masyarakat (BIMA), tim IPB akan melakukan pendampingan rutin guna memastikan adopsi teknologi dan pencapaian target peningkatan pendapatan pembudidaya sebesar 30% pada akhir 2025. “Kolaborasi multidisiplin antara ahli perikanan, ekologi, dan manajemen ini menjadi kunci membangun usaha budidaya berdaya saing dan berkelanjutan,” tegas Dudi Wildan menutup kegiatan.
