IPB University Kenalkan Program Reintroduksi Kepiting Bakau untuk Mendukung Restorasi Mangrove di Muara Gembong
IPB University Kenalkan Program Reintroduksi Kepiting Bakau untuk Mendukung Restorasi Mangrove di Muara Gembong
Muara Gembong, 15 November 2025 — IPB University bersama University of Waterloo, Kanada, melalui hibah I-CAN Synergy on Multidisciplinary Collaborative Study (I-CAN Sync), menggelar sosialisasi program reintroduksi kepiting bakau sebagai upaya mendukung pemulihan ekosistem mangrove di Desa Mekar, Muara Gembong, Bekasi.
Kegiatan ini menghadirkan dua dosen dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, yaitu Prof. Sulistiono dan Dudi Muhammad Wildan, yang memaparkan konsep penelitian dan skema pemberdayaan masyarakat pesisir. Sosialisasi tersebut diikuti sekitar 30 warga setempat, terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu.

Integrasi Restorasi Mangrove dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Dalam pemaparannya, tim MSP IPB University memperkenalkan pendekatan restorasi mangrove yang menggabungkan aspek ekologis dan sosial ekonomi. Salah satu konsep utama adalah integrasi penanaman mangrove dengan penebaran benih kepiting bakau (Scylla spp.).
Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan kepiting bakau dapat meningkatkan kesuburan tanah mangrove dan mendukung pertumbuhan tegakan baru. Selain itu, kepiting yang dipelihara berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat ketika masa panen tiba.
Program ini dibagi menjadi dua kelompok kegiatan:
- Kelompok bapak-bapak: Berfokus pada penanaman mangrove, penyebaran benih kepiting bakau, dan pemeliharaan lokasi rehabilitasi.
- Kelompok ibu-ibu: Mengikuti program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan pengolahan kepiting menjadi produk bernilai ekonomi, seperti abon kepiting, bakso kepiting, dan kerupuk kepiting.
“Integrasi penanaman mangrove dan penebaran kepiting memungkinkan masyarakat terlibat langsung dalam pemulihan lingkungan sembari memperoleh manfaat ekonomi,” ujar Dudi Muhammad Wildan, dosen MSP IPB University.

Penentuan Lokasi dan Rencana Pelaksanaan
Dalam sesi diskusi, warga dan tim MSP IPB University membahas lokasi yang paling tepat untuk rehabilitasi mangrove. RW setempat mengusulkan area terdampak abrasi, namun tim MSP menekankan perlunya memastikan kondisi lahan sesuai untuk keberhasilan penanaman dan penyebaran benih kepiting.
Kegiatan inti dijadwalkan berlangsung pada 6–7 Desember 2025, dengan durasi program selama satu tahun. Sebanyak 30 peserta akan terbagi merata ke dua kelompok sesuai fokus kegiatannya.

Pemberdayaan Perempuan sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
Kelompok ibu-ibu menyampaikan ketertarikan untuk mengembangkan olahan kepiting. Menjawab kebutuhan tersebut, tim MSP IPB University akan menghadirkan tenaga ahli yang memberikan pelatihan lengkap, mulai dari preparasi bahan, teknik pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk pangan berbahan dasar kepiting.
Prof. Sulistiono menambahkan bahwa banyak produk turunan kepiting yang dapat dikembangkan di masa depan, namun fokus awal akan diarahkan pada tiga produk utama yang disepakati bersama.
